Ads 468x60px

Selasa, Januari 6

KORBAN PERANG PALESTINA



Warga Beit Lahia utara Jalur Gaza mengungsi di sebuah sekolah milik PBB Gaza/AFP

JERUSALEM - Israel kemarin mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza. Namun jenis bantuan masih sangat terbatas dibanding jutaan pengungsi Palestina yang kelaparan, terluka, dan kekurangan bantuan medis.

Pembukaan aliran bantuan kemanusiaan dilakukan Israel setelah mendapat tekanan dan kecaman dunia internasional. Invasi darat Israel di Gaza semakin memburuk. Lebih dari 537 warga Palestina tewas akibat agresi paling brutal Israel sejak Perang Lebanon 2006 itu. Sedikitnya 2.500 warga Gaza juga terluka akibat bombardir Israel dari darat, laut, dan udara.

"Konvoi 80 truk yang memuat bantuan kemanusiaan telah mulai melintasi perbatasan Kerem Shalom di selatan," ujar seorang Juru Bicara Militer Israel kemarin.

Menurut militer Israel, bantuan yang masuk itu berupa obat-obatan dan makanan yang dikirim dari Mesir, Yordania,Yunani, dan badan-badan bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Di bagian utara Gaza, terminal perbatasan Nahal Oz juga dibuka hari ini untuk mengizinkan masuknya 200.000 liter bahan bakar untuk pembangkit listrik di Gaza. Selain itu, 120 ton gas untuk memasak," papar militer Israel. Perlintasan perbatasan Erez di wilayah utara Gaza juga dibuka untuk mengizinkan sebanyak 200 warga berpaspor Palestina meninggalkan kawasan yang masih diporak- porandakan Israel itu.

Berbagai kelompok bantuan berulang kali memperingatkan semua pihak tentang kian memburuknya krisis kemanusiaan di Gaza yang dihuni 1,5 juta warga Palestina. Apalagi hingga kemarin militer Israel terus membombardir Kota Gaza. Korea Selatan (Korsel) kemarin menawarkan bantuan kemanusiaan senilai USD 300.000 untuk warga Gaza.

Kementerian Luar Negeri Korsel mendesak Israel dan Hamas segera menghentikan kekerasan dan menyerukan gencatan senjata di kawasan itu. Lalu Pemerintah Filipina kemarin membatalkan rencana evakuasi warga negara Filipina dari zona perang di Gaza.

"Rencana untuk memindahkan sekelompok warga Filipina bersama delegasi Palang Merah hari ini dibatalkan karena situasi berbahaya," papar Wakil Sekretaris Masalah Luar Negeri Filipina Esteban Conejos.

"Enam warga Filipina yang terdiri atas empat anak-anak, ibu, dan seorang pengasuh, tidak dapat bergabung konvoi Palang Merah. Kami mendapat saran untuk menghentikan segara rencana mengevakuasi warga hingga kondisi normal," kata Canejos.

0 komentar:

Poskan Komentar