Ads 468x60px

Senin, Januari 5

SEBUAH CATATAN BERTAJUK 7,6 MW

Catatan dimulai dari 4 Januari 2009 pukul 04:44 WIT, ketika sebuah guncangan kuat menggoyang kepala burung pulau Irian. USGS National Earthquake Information Center menempatkan gempa ini pada magnitude 7,6 Mw dan dikategorikan sebagai gempa besar dengan pelepasan energi seismik mencapai 3.700 kiloton TNT atau 185 kali lipat lebih dahsyat ketimbang bom Hiroshima. Hingga 12 jam kemudian telah tercatat sedikitnya 21 gempa susulan. Sejauh ini "baru" 1 orang tewas, 2 orang masih tertimbun di Hotel Mutiara, 4 orang luka-luka serta beragam bangunan roboh ataupun retak-retak, seperti misalnya kantor Gubernur Irian Jaya Barat.

Plotting posisi episentrum gempa utama dan gempa-gempa susulannya menunjukkan Gempa Sorong ini berpusat di daratan, tepatnya di lintasan sesar Sorong. Merujuk mekanisme fokal dari USGS, gempa ini ditimbulkan oleh pematahan naik (thrust faulting) sepanjang 150 km dengan luas segmen batuan yang terpatahkan mencapai 4.000 km persegi, yang secara rata-rata mengalami pergeseran total (total slip) sebesar 2,5 meter. Angka ini berbeda jauh dengan estimasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dept. ESDM yang menempatkan luasan patahan sebesar 28.600 km persegi atau 7 kali lipat lebih besar, yang berkorelasi dengan total slip 7 m. Mana yang lebih tepat tentunya musti dicek berdasarkan jejak-jejak rupture di lapangan, yang kemungkinan besar terekspos di permukaan mengingat hiposentrum gempa ini dangkal (yakni 35 km menurut USGS). Namun jika merujuk pada pengalaman gempa dengan magnitude hampir sama, seperti Samudera Hindia 17 Juli 2006 (7,7 Mw) maupun Mentawai 1935 (7,7 Mw), nilai total slipnya rata-rata tidak melebihi 3 meter.

Di tengah musibah ini, patut disyukuri bahwa gempa ini tidak terjadi di laut, mengingat ada bagian sesar Sorong yang berada di dasar Teluk Cenderawasih. Andaikata sumber gempa ada di dasar teluk, maka dengan dislokasi vertikal rata-rata sebesar 150 cm akan diikuti dengan terbentuknya tsunami merusak dengan energi 3,92 kiloton dengan tinggi gelombang 1,3 meter pada pantai berjarak 50 km dari episentrum. Ini tentu cukup merusak. Di masa silam pesisir utara Pulau Irian, khususnya pulau Biak dan sekitarnya, pernah dihantam tsunami merusak pada 17 Februari 1996 yang menyebabkan 108 orang tewas.

Gempa ini menghasilkan guncangan berintensitas 9 MMI di sumbernya. Namun di kota Sorong dan Manokwari, dua pusat pemukiman terdekat dengan sumber gempa, intensitas gempa tercatat hanya 5 MMI yang berkorelasi dengan percepatan tanah maksimum 4 - 6 % G. Angka ini cukup kecil sehingga tidak sampai meruntuhkan bangunan setempat. USGS Landscan 2005 menyebut ada 200 ribu jiwa yang mendiami wilayah yang terkena guncangan lebih dari 5 MMI, sehingga potensi korban jiwa memang ada, namun diestimasikan kecil. Demikian pula dengan potensi korban luka-luka. Sementara kerusakan infrastruktur sejauh ini belum bisa diestimasikan.

Gempa Sorong meletup di lintasan sesar Sorong, sebuah patahan transformasi nan panjang yang membentuk Kawasan Indonesia bagian Timur mulai dari Pulau Irian hingga Pulau Sulawesi, yang muncul sebagai hasil interaksi kompleks antara lempeng Pasifik yang mendesak ke arah barat daya dengan kecepatan 11 cm/tahun dengan lempeng Australia yang bergerak ke utara dnegan kecepatan 6 cm/tahun. Sesar Sorong ini tergolong sesar aktif dan berulangkali menjadi sumber gempa yang merusak di kawasan Pulau Irian, Kepulauan Maluku, maupun Sulawesi bagian timur (Kep. Banggai dan Sula). Namun Pulau Irian tidak hanya punya sesar Sorong saja, masih ada pula sesar Tarera Aiduna yang bertanggung jawab atas gempa Nabire 2004, serta sesar Ransiki dan sesar-sesar yang membujur di sepanjang Pegunungan Jayawijaya.

Persoalannya sekarang, 70 % pusat hunian manusia Indonesia berada di atas lembah/daratan yang terbentuk oleh aktivitas patahan, sebagian di antaranya diketahui aktif dan sebagian lagi belum jelas statusnya. Sementara sebagian besar bangunan di pusat-pusat hunian ini mempunyai daya tahan nan buruk terhadap guncangan gempa. Perhitungan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Dep. ESDM menunjukkan, untuk Pulau Jawa saja, guncangan gempa dengan magnitude 4,8 - 5,2 Mw (alias 5 skala Richter) sudah cukup mampu membuat kerusakan signifikan, sebagaimana yang terbukti dalam petaka Gempa Yogya 27 Mei 2006 silam yang merenggut 6.000 korban jiwa, padahal magnitudenya tergolong "kecil" (hanya 6,4 Mw). Maka prioritas mitigasi bencana gempa, mau tak mau adalah bagaimana menytelematkan manusianya, bukan bangunannya.

Inilah yang harus terus menerus kita latih dan lakukan. Waspada dan berlatih siaga adalah your earthquake early warning systems. Sebab gempa-gempa lain setelah Gempa Sorong pasti akan terjadi, dan salah satunya mungkin akan terjadi di tempat tinggal kita. Itu hanya masalah waktu saja.

0 komentar:

Poskan Komentar