Ads 468x60px

Kamis, September 23

Orator atau Calon Koruptor?

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم Siapa para pejabat yang korupsi di negeri kita saat ini? Jawabnya bisa singkat, bisa pula panjang. Singkat, ketika pikiran kita terpaku pada masa ini. Panjang, ketika jawaban itu dikaitkan dengan kenyataan pada masa lalu dan masa datang.
Lewat tulisan ini, saya hanya akan mengulas jawaban yang panjang. Jawaban paling sederhana, para koruptor yang sekarang duduk di kursi kekuasaan adalah para mahasiswa pada masa lalu. Logika sederhananya, mereka yang sekarang berkuasa adalah kita pada masa datang.

Dengan berat hati harus kita akui, mereka yang korupsi saat ini adalah diri kita sendiri. Atau, jika terlalu berat mengakui hal itu, mari sejenak mundur ke masa lalu, ke saat saat para koruptor itu menyandang status mahasiswa. Kemudian, mari bersama-sama kita katakan mereka adalah mahasiswa dan kita adalah mahasiswa. Jadi, mereka adalah kita. Contoh riil, Direktur Jenderal pajak yang akhir-akhir ini diketahui bermain gelap dengan pajak tak lain dan tak bukan adalah mantan mahasiswa.
Saya tidak menjustifikasi bahwa mahasiswa saat ini adalah koruptor.Saya ini hanya ingin mengingatkan, dalam diri mahasiswa mengalir “darah tikus”.
Dengan menyadari hal itu, mahasiswa bisa mengantisipasi terlebih dahulu agar darah itu tak mengalir lebih deras.

Saya yakin, mahasiswa di seluruh Indonesia saat ini adalah mahasiswa yang peduli terhadap negara, peduli terhadap nasib rakyat. Itu terbukti dengan aksi unjuk rasa yang kerap mereka lakukan. Nurani membuat mereka menuntut pemerintah untuk memperhatikan nasib rakyat.Memberantaskorupsi!
Namun untuk peduli terhadap nasib rakyat sepertinya harus ada cara baru. Tidak harus turun ke jalan, baris di depan gedung pemerintahan, meneriakkan nasib rakyat, dan menuntut pemberantasan korupsi. Alasannya singkat, bukankah itu juga yang dulu dilakukan para mahasiswa, yang saat ini ada dalam struktur pemerintahan?
Jika tidak percaya, mari sejenak menengok ke belakang. Setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan dua puluh tahun lalu, berapa banyak mahasiswa dengan semangat kerakyatan turun memenuhi jalan, berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan? Sama dengan yang dilakukan mahasiswa saat ini.
Kultur Justru itu semua akan menjadi berbahaya jika unjuk rasa atau demonstrasi suatu saat hanya dianggap sebagai kultur. Bahwa unjuk rasa yang semula disakralkan sebagai bentuk ungkapan penolakan kebijakan pemerintah sekaligus alat untuk menyampaikan aspirasi, suatu saat hanya dianggap sebagai budaya.
Dalam bahasa lebih sederhana, kebiasaan mahasiswa melakukan unjuk rasa hanya akan dianggap sebagai budaya mahasiswa. Apa yang dilakukan mahasiswa di jalan, berteriak-teriak, membakar ban bekas bukanlah bentuk penolakan dan penyaluran aspirasi, melainkan pelestarian kebudayaan.

Dalam ungkapan lebih sederhana lagi, mahasiswa harus berdemonstrasi. Jika tidak, berarti bukan mahasiswa.

3 komentar:

Awaluddin Jamal mengatakan...

waduh sangat "menyentuh" ini tulisannya..,

rasanya mahasiswa-mahasiswa saat ini di tantang untuk mempertahankan "idealismenya" saat mereka sendiri berada di dalam sistem, memang banyak kasus dimana mereka -mahasiswa- (termasuk saya, kelak) tidak mampu untuk mempertahankan idealismenya itu, apakah mereka tergiur dgn godaan2 yg ada dlm sistem ??? wallahu alam..,

contohnya saja beberapa aktivis 98, yg sekarang sedang duduk di gedung DPR, apakah tindakan mereka sesuai dgn apa yg di teriakkan dulu ? kita tentunya bisa melihat sendiri apa yg terjadi sekarang.

Aisyah mengatakan...

KORUPTOR ADALAH PENJAHAT NO 1 NEGERI KITA...

Dunia Digital mengatakan...

klo mahasisiwa pekerjaanya demo. mungkin nanti namanya di ganti saja. mhademo hehhehe

Poskan Komentar