Ads 468x60px

Rabu, Desember 15

Wajah Mahasiswa Kini

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
Fulan (bukan nama sebenarnya), dia salah satu mahasiswa dari jutaan mahasiswa di negeri ini, sedang asik memutar-memutar rokok disela jari-jarinya sambil sesekali menghisapnya lalu menyemburkannya sehingga menjadi bulatan kepulan asap yang pastinya menambah jumlah polusi udara. Fulan kala itu sedang menunggu jam mata kuliah kedua, celananya yang robek dengan kaos yang cukup kusam pula, ditambah anting dikuping membuat fulan lebih mirip seorang preman pasar ketimbang seorang mahasiswa yang menyandang predikat kaum intelektual.

Nah, yang ini namanya Salma (juga bukan nama asli). Mahasiswi yang satu ini adalah gadis yang cantik, dandanannya sangat modis dan seksi, membuat para kaum adam yang memandangnya berfantasi. Seperti biasa Salma dan kawan-kawan se-genk-nya sedang kumpul disalah satu kantin kampus di Kebumen, trend mode rambut, pakaian, dan asesoris yang sedang update saat ini serta tempat-tempat hangout favorit, biasa menjadi topik diskusi utama serta tema kongkow mereka. Padahal Salma dan kawan-kawannya itu mengambil jurusan Manajemen Informatika, yang jelas tidak pernah berlaian antara mata kuliah dengan topik bahasan mereka setiap kali bertemu kawan-kawannya.

Lain halnya dengan Waluyo (nama samaran), mahasiswa yang barangkali tampak terasing di kalangan mayoritas teman-temannya. Tapi ada yang tampak unik darinya, disaat teman-teman kuliahnya menghabiskan waktu di tempat-tempat hangout seperti kafe, bar atau diskotik, Waluyo justru membagi waktunya untuk mengajar anak-anak jalanan pada salah satu rumah singgah disela-sela rutinitasnya yang padat sebagai mahasiswa dan aktifis kampus.
Itulah realitas mahasiswa. Padahal, mahasiswa adalah kaum intelektual, generasi pembaharu, agen of change, sekaligus oposisi pemerintah yang paling independen. Begitulah kira-kira image yang melekat pada mereka yang menyandang predikat mahasiswa. Begitu hebat itu sehingga icon kampus, tempat mereka belajar, selalu diidentikan dengan komunitas perubahan. Karena memang catatan sejarah telah mengukir para mantan mahasiswa yang telah mengoptimalkan fungsi dan perannya dengan baik, tapi kini….?

Mari kita tengok bersama kondisi mahasiswa saat ini melalui ilustrasi diatas yang memang menjadi karakter dominan mahasiswa kita. Fulan dan Salma mewakili entitas kebanyakan mahasiwa saat ini, ditengah kurungan kemajuan tehnologi serta modernisasi peradaban yang menamakan diri sebagai globaliasasi, Figur-figur pemuda/mahasiswa dalam dunia tanpa batas ternyata lebih mudah membentuk pribadi-pribadi konsumtif pada segala hal. Mahasiswa sekarang seakan kehilangan identitasnya, sikap ramah dan rasa sosial yang tinggi yang pernah dimiliki pemuda bangsa ini yang notabene adalah bangsa timur mulai hilang dan berganti sikap apatis, individualistik dan tidak jarang anarkis.
Keadaan mahasiswa yang seperti ini pastinya berimbas pada kualitas SDM para lulusannya. Bahkan kenyataanya kini, kebanyakan mereka yang telah menyandang status sarjana justru menjadi pengangguran, dan luntang-lantung tidak jelas. Mereka kurang memiliki life skill, akibatnya membuang-buang waktu untuk hal yang sia-sia ketika masa kuliah dahulu.

Namun ditengah kebanyakan mahasiswa kini yang sangat suka menyia-nyiakan waktu, masih ada sebagian mahasiswa layaknya Waluyo seperti pada ilustrasi diatas, sadar akan fungsi dan perannya sebagai mahasiswa dan manusia. Mau peduli dan berbagi ilmu yang dimilikinya kepada mereka yang kurang beruntung.

Singkatnya, negeri ini sedang sakit…kawan! Lahirnya generasi baru dengan kualitas SDM yang baik adalah salah satu obat penawar rasa sakit tersebut, dan obat itu ada pada kita, para mahasiswa. Dengan demikian, maka sudah saatnya kalian, para mahasiswa kebanyakan seperti Fulan dan Salma melakukan introspeksi, melakukan introspeksi, membenahi sikapnya yang kurang pantas dilakukan oleh mereka selaku mahasiswa. Sebelum semuanya terlambat, sebelum segalannya berubah menjadi penyesalan.

0 komentar:

Poskan Komentar