Ads 468x60px

Sabtu, Januari 8

Raja Gombal Pelatih Timnas Malaysia...

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Mau Liat Pelatih Timnas Malaysia (Raja Gombal)yang mengasuh Pemain sepak bola malaysia mengalahkan Timnas Indonesia saat final Piala AFF 2010 lalu...???Ini dia:





Gimana...??ha...ha...ha...

Jayalah terus Sepak bola Indonesia...!!

Kontrak Belajar Sebatas Janji

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Dosen adalah pembimbing mahasiswa dalam mengarungi dunia keilmuan di kampus. Karena itu, dosen harus arif, jangan mengedepankan kepentingan pribadi, lalu meninggalkan mahasiswa begitu saja.

Dosen punya kuasa penuh atas mahasiswa. Dosen berhak menentukan dan mengatur jadwal serta kepentingan selama kuliah. Namun kesepakatan seperti kontrak belajar, dari waktu masuk kuliah hingga tingkat kehadiran, terkadang sebatas janji, sulit terealisasi. Muncul kesan, kesepakatan hanya berlaku bagi mahasiswa. Namun tidak bagi dosen.

Tak jarang dosen absen dalam perkuliahan. Entah dengan bermacam alasan atau banyak kegiatan di luar. Tak pelak, banyak waktu mahasiswa jadi kurang berguna. Dampaknya, mahasiswa pun telantar.

Ketakhadiran dosen jelas menghambat karena materi kuliah menumpuk. Sisa waktu singkat tentu tak layak untuk menyelesaikan materi secara maraton karena bisa mengabaikan penguasaan materi. Nilai-nilai yang seharusnya jadi pijakan mahasiswa untuk lebih berwawasan pengetahuan tak terwujud. Padahal, kuliah adalah salah satu media perkembangan keilmuan mahasiswa.

Belajar dengan sistem kebut jelas-jelas pembodohan bagi mahasiswa. Mahasiswa bukan diajar mengerti dan memahami ilmu, melainkan dilatih menyelesaikan materi secara tergesa-gesa. Salah satu landasan pembenaran sistem itu adalah orientasi nilai. Sebab, nilai dianggap kebutuhan penting penambah indeks prestasi. Jadi mahasiswa akan melakukan apa pun saran dosen, entah dengan belajar sistem kebut atau cara lain.

Kemurahan saat memberikan nilai dianggap solusi tepat untuk mengatasi tindakan dosen yang sering bolos mengajar. Mereka memakai hak kuasa dengan memberi nilai sebaik mungkin.

Jika nilai sebatas simbol keaktifan, sedangkan substansi ilmu dalam kuliah terletak pada pembelajaran untuk membentuk karakter mahasiswa sehingga berwawasan luas, jangan harap nilai mampu mengatasi kebodohan mahasiswa.
Orientasi Nilai Untuk memperoleh nilai baik sangat mudah. Mahasiswa cukup hadir dalam setiap kuliah dan mengerjakan tugas secara bertanggung jawab. Namun nilai bagus belum tentu mencerminkan kecerdasan. Ketika mahasiswa mendapat nilai bagus, barangkali karena sudah menyelesaikan perintah dosen, dari tingkat kehadiran sampai membuat makalah, walau penguasaan materi biasa-biasa saja.

Sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah berorientasi nilai. Ujian nasional, misalnya, sampai sekarang belum mampu menjawab problematika pendidikan di negeri ini. Walau ujian nasional untuk meningkatkan mutu pendidikan, tetap saja anak didik belum menunjukkan kualitas terbaik.

Mutu pendidikan kita masih kalah dari negara-negara tetangga. Namun pemerintah tetap memberlakukan peraturan itu. Padahal, pendidikan tahap akhir yang berorientasi nilai tak bisa menciptakan kualitas manusia yang beradab dan berwawasan luas. Sebab, tak ada perhatian terhadap penguasaan materi. Mereka hanya mengejar target nilai. Untuk memperoleh nilai bagus, mereka pun menghalalkan segala cara.

Selama ujian nasional, banyak pihak berlaku curang. Sebab, nilai menjadi sesuatu yang melebihi segalanya. Padahal, nilai sangat mungkin direkayasa. Lain dari kecerdasan yang bersifat abstrak dan sulit direkyasa.

Jadi dalam mendidik mahasiswa, dosen seharusnya memperhatikan aspek lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah bisa dilihat dari seberapa jauh mahasiswa mampu menguasai materi kuliah.

Aspek batiniah lebih menekankan pada penerapan ilmu dalam kehidupan nyata. Untuk menguasai kedua aspek itu butuh kepedulian terhadap anak didik. Jangan sampai dosen pergi begitu saja saat semestinya mengajar. Kata pepatah, waktu adalah uang dan waktu adalah pedang. Bila tak menggunakan waktu dengan baik, seseorang bisa merugi dan celaka. Jadi nilai jelas bukan solusi yang tepat, melainkan hanya rekayasa untuk menutupi kebodohan.

Senin, Januari 3

Mahasiswa, Wisuda, dan Pengangguran

بِسْمِ اﷲِالرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


DALAM prosesi wisuda sering dinyanyikan bermacam-macam lagu, dari “Indonesia Raya”, mars dan himne Kampus, lagu nasional, hingga pop kontemporer sebagai suplemen.
Mahasiswa pun terhanyut karena bangga dapat menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi (PT) di tengah kemerebakan komersialisasi pendidikan. Muncul pula keangkuhan karena menganggap dengan gelar Sarjana bakal gampang meraih segalanya. Mereka beranggapan, ijazah adalah ikon penghasil kehidupan.Muncul angan-angan melampaui tarajji dan tamanni di hati seluruh sivitas akademika. Pihak kampus pun terlena dengan pesta besar dunia kampus.
Padahal, saya membayangkan saat wisuda, paduan suara mahasiswa sebaiknya menyanyikan lagu “Sarjana Muda” karya Iwan Fals. Itu penting. Mengapa?Tujuannya, agar mahasiswa merenung sejenak: selanjutnya hendak berlayar ke mana? Jajaran dan segenap sivitas akademika pun semestinya bersikap realistis; tak terlena dalam euforia mahasiswa yang hendak diwisuda.Sarjana yang diceritakan Iwan Fals dalam lagu “Sarjana Muda” merupakan renungan mendalam dan bermakna. Namun agaknya lagu hit yang dirilis tahun 1981 dalam album Sarjana Muda itu tergolong najis mughalladzah dinyanyikan saat wisuda karena liriknya berisi paradoks dan ironi.Lumrahnya, sarjana yang pintar (diukur dengan IPK tinggi, lulus cepat atau tepat waktu) cepat pula terserap di dunia kerja.
Namun “Sarjana Muda” menggambarkan betapa sarjana pintar justru sulit memperoleh pekerjaan. Padahal, dia sudah berjalan gontai tak tentu arah, sambil menatap awan berarak dengan wajah murung. Jaket pun lusuh bercampur keringat dan debu jalanan.
Sang sarjana putus asa dan berkata, “Maaf, Ibu.” Sebab, dia merasa gagal membahagiakan sang ibu yang menyekolahkan bertahun-tahun (Iwan Fals, 1981).
Lirik itu jelas berbanding arah dengan suasana dalam prosesi wisuda.
Rektor,Ketua atau Direktur dengan percaya diri maju ke podium, memberikan sambutan, pengarahan, lantas memimpin pengucapan ikrar alumni untuk selalu menjaga nama baik almamater. Semua dikondisikan serba sempurna, seolah-olah setelah wisuda, para wiisuda bisa langsung berkiprah di dunia praksis yang (konon) merupakan pengabdian pada bangsa dan negara Faktanya tidak demikian. Seusai diwisuda, mayoritas sarjana menambah angka penganggur terdidik dengan grafik berfluktuasi setiap tahun.
Tentu perguruan tinggi menginginkan lulusan berkualitas, tak latah pada sisi jumlah. Namun, selain ketidaktahuan tentang sistem pendidikan selama ini asimetris dengan paradigma dunia kerja, kampus juga setengah hati memfasilitasi alumnus. Setelah mengobral, memperoleh untung,berkuranglah tanggung jawab PT.Beberapa kampus memang membentuk study advisory centre (SAC), semacam badan yang mengurusi dunia kerja dan membuka jaringan antara perusahaan, kampus, dan alumnus. Namun kebanyakan fasilitas itu sekadar formalitas. Kondisi itu membuat kampus berkesan “lepas tangan” atas nasib alumnus.
F Budi Hardiman dalam buku Memahami Negativitas (2005), mengutip sastrawan Bulgaria pemenang Nobel tahun 1981, Elias Canetti, mengajukan deskripsi untuk memahami makna ketakbermaknaan feses (kotoran manusia).Kita tak ingin melihat benda yang pernah jadi bagian dari diri kita itu. Relasi antara sarjana yang tak beruntung dan PT layaknya manusia dan feses. Pada awal penerimaan mahasiswa baru, banyak PT bersemangat mempromosikan diri agar diminati calon mahasiswa.Jika jalur penerimaan resmi (SNMPTN, PMDK) ditutup, mereka pun berinovasi untuk merekrut mahasiswa baru, dari seleksi lokal tahap I, II, III, atau bahkan IV. PT bernafsu menerima sebanyak mungkin mahasiswa.Kemunculan berbagai cara yang mengarah ke pelanggaran etika akademik untuk memenangi persaingan itu menunjukkan, pendidikan kini cenderung jadi ajang bisnis. Akibat terlalu gampang menerapkan sistem input, proses “metabolisme” di PT berjalan tak sempurna. Dan, akhirnya banyak yang terbuang.Karena itu, ucapan Iwan Fals, “Engkau sarjana muda, lelah mencari kerja/Sia-sia ijazahmu/Empat tahun lamanya bergelut dengan buku Ö..”, tak ubahnya kotoran dari industri pendidikan yang tak hendak lagi dilihat oleh PT yang meluluskan karena dianggap tak berguna.
Padahal “sekotor” apa pun, sarjana tak beruntung itu pernah jadi bagian dalam proses “metabolisme” di perut industri pendidikan tinggi. Bagaimana, kelak, nasib sarjana?.