A
Aksi partisipatioris mahasiswa adalah kontribusi penting bagi tegaknya demokrasi.Mahasiswa memiliki tanggung jawab mengawal perjalanan demokrasi.Namun,ketika peran itu diaktualisasikan dengan cara serampangan,masihkah peran mahasiswa menemukan relevansinya?
Sadar atau tidak,terkadang mereka menyuarakan aspirasi melalui cara yang kurang tepat.Tidak sedikit kasus anrkisme massa meledak saat mahasiswa turun ke jalan.
Jika tidak disikapi dengan arif,bentrokan yang tidak hanya satu kali meledak itu selanjutnyta akan melahirkan konflik yang tak kunjung usai.
Kesalahan terbesar yang acap terjadi adalah aspirasi nilai-nilai demokrasi dipraktikan secara nondemokratis,sporadis dan cenderung amoral.Substansi demokrasi justru mengalami ketimpangan jika ide-ide original yang menyuarakan demokrasi disalurkan dengan jalan kekerasan,amuk masa bahkan pembasmian (genicode).Ini adalah praktik demokrasi yang dalam pandangan Hedar Nasir,potensial mewabahkan krisis kemanusiaan.
Dalam situasi inilah kedewasaan Mahasiswa teruji,bagaimana mereka mimbingkai masalah secara rasional,objektif dan proposional.Konflik yang muncul harusnya ditilik secara arif.Disaat seperti inilah kepiawaian menindai masalah menemukan momentumnya.
Akan ironi ketika cara menghadapi masalah ini mengesampingkan etika demokrasi yang seharusnya menjadi ruh bagi setiap model partisipatioris.
Kamis, Oktober 14
Jumat, Oktober 1
Berani Menjadi Pemimpin
Menjadi pemimpin bisa meneguhkan biografi diri seseorang. Menguatkan dirinya sebagai yang berada, tak sebatas ada. Namun status tersebut selalu menghadirkan tantangan sekaligus harapan. Baik dalam proses pencapaian status tersebut maupun dalam proses kreatifnya. Pemimpin selalu menjadi yang terdepan; menerima efek positif dari lakunya, atau juga sebaliknya, menanggung resikonya.
Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Sebab sikap-sikap kepemimpinan diperoleh bukan dari bakat sejak lahir, ataupun dengan mempelajarinya selama beberapa jam pertemuan. Sikap kepemimpinan merupakan sebuah proses yang terus menerus dalam tahap menjadi. Jadi sikap kepemimpinan dalam diri seseorang bukan sesuatu yang sifatnya pasti, tetap atau juga stagnan. Sikap itu terus membangun diri melalui serangkaian tempaan, sejalan dengan semakin matangnya pola pikir serta kedewasaan sikap.Sikap itu bukan sesuatu yang bisa mencapai tahap finish. Serangkaian proses yang tak pernah usai tersebut menjurus pada satu tujuan, menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Lalu, bisakah seseorang menjadi pemimpin yang sesungguhnya?
Pemimpin yang sesungguhnya atau lumrah disebut sebagai pemimpin ideal dalam arti paling purba adalah seorang pemimpin yang mampu menjalankan fungsi dan perannya, yang tak lain adalah mengatur. Setidaknya dalam ranah ideologis memang demikian, namun akan memperoleh perluasan jika dibenturkan dalam ranah praktis. Dibenturkan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Apa yang diajarkan Ki Hajar Dewantara setidaknya bisa menjawab permasalahan ini. Seorang pemimpin adalah; Ing ngarso sung tuladha (di depan sebagai contoh), ing madya mangun karso (di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan). Pengertian ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin jauh dari sikap pemanfaatan kekuasaan untuk memerintah seenaknya.
Menjadi seorang pemimpin ideal memang sulit dan memerlukan proses belajar yang panjang, namun bukan berarti tidak mungkin. Pada dasarnya manusia adalah pemimpin, setidaknya menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan idiom bahwa tiap manusia akan menanggung sendiri dari apa yang telah ia lakukan. Jadi di sini manusia dituntut untuk bisa mengontrol dirinya agar tetap pada koridor dan nilai-nilai tertentu.
Tantangan dan Harapan
Namun seorang pemimpin baru akan benar-benar memperoleh tantangan jika dia menjadi pemimpin dalam organisasi atau kelompok tertentu. Sebab di sini dia juga bertanggung jawab bukan hanya pada apa yang dia lakukan, tapi juga apa yang dilakukan oleh anggotanya. Lebih dari itu, juga bertanggung jawab atas tercapai atau tidaknya tujuan tertentu. Sehingga filosofi hidup yang diutarakan Ki Hajar Dewantara di atas sekaligus merupakan tantangan untuk menjadi seorang pemimpin yang ideal.
Di depan sebagai contoh, artinya selain ia menjalankan tugas pokok sebagai pemimpin, ia juga harus mampu bersikap positif, mampu memberikan positif impact, sehingga ia layak untuk menjadi "bahan" percontohan sikap dan prilaku bagi liyan (the other) yang tak lain adalah para anggotanya. Selanjutnya, di tengah memberi semangat, artinya dalam aktifitas untuk mencapai tujuan, seorang pemimpin tidak melulu mengatur, pemimpin harus mampu memberikan sentuhan-sentuhan penyemangat agar para anggota juga tidak merasa diperas, ditekan dalam aktifitasnya. Ketiga, di belakang memberi dorongan, di sinilah seorang pemimpin tidak selalu dalam posisi di depan dalam derap langkah sebuah aktifitas. Seorang pemimpin yang ideal harus mampu dan mau “turun tahta” untuk sementara waktu, untuk membaur bersama anggota dan memberikan dorongan-dorongan di saat mereka dalam keadaan lemah, fisik atau pun mental. Sikap-sikap tersebut mencerminkan sikap luwes (transformatif) pada diri pemimpin. Dia mampu memerankan berbagai adegan dalam kancah aktifitas berorganisasi.
Selain sikap sekaligus tantangan bagi pemimpin ideal di atas, pemimpin juga diharapkan mampu menjalani komunikasi dengan baik. Komunikasi adalah sebuah penengah (medium) antara pemimpin dan anggota. Hemat penulis, terjalinnya komunikasi yang baik, akan tercipta pula iklim harmonis dalam organisasi tersebut. Sehingga sangat wajar jika Marshal Mc. Luchan mengatakan, "medium is power". Komunikasi adalah kekuatan sekaligus kekuasaan. Atau dengan ekstrim Cicero mengatakan "tak ada yang satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau dapat diperbaiki dengan kata-kata", di mana kata adalah moda utama komunikasi. Namun harus diakui untuk mencapai sikap-sikap itu butuh proses panjang. Sehingga muncul pertanyaan yang cenderung politis, mengapa seseorang ingin jadi pemimpin? Pertanyaan ini akan terjawab jika tujuan sekaligus harapan menjadi pemimpin terjawab.
Secara internal, harapan sekaligus tujuan seseorang untuk memimpin, jika meminjam istilah Friedrich Nietzche adalah adanya kehendak untuk berkuasa (the will to power). Bakat alami yang dimiliki oleh manusia adalah keinginannya untuk menguasai. Kehendak untuk berkuasa di sini dapat dirumuskan sebagai kekuatan yang memerintahkan tanpa adanya suatu pasivitas. (St. Sunardi, 2009: 63). Harapan ini mengandaikan orang lain agar mengatakan "Ya" atas ide, perkataan, hingga laku kita. Di sinilah persepsi mengenai pemimpin menemui definisi banalnya, memerintah. Menjadi pemimpin itu mudah karena hanya memerintah.
Selain itu, menunjukkan eksistensi juga menjadi tujuan seseorang menjadi pemimpin. Jika mengacu pada teori Abraham Moslow, maka menjadi pemimpin adalah jalan untuk memenuhi kebutuhan akan eksistensi diri. Meneguhkan biografi diri dalam pergolakan di panggung dunia. Sebab efek yang tak disadari dari seorang pemimpin adalah menjadi populer.
Dua faktor esensial inilah yang menjadikan seseorang ingin dan berani menjadi pemimpin. Namun yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita memimpin dengan baik.
Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Sebab sikap-sikap kepemimpinan diperoleh bukan dari bakat sejak lahir, ataupun dengan mempelajarinya selama beberapa jam pertemuan. Sikap kepemimpinan merupakan sebuah proses yang terus menerus dalam tahap menjadi. Jadi sikap kepemimpinan dalam diri seseorang bukan sesuatu yang sifatnya pasti, tetap atau juga stagnan. Sikap itu terus membangun diri melalui serangkaian tempaan, sejalan dengan semakin matangnya pola pikir serta kedewasaan sikap.Sikap itu bukan sesuatu yang bisa mencapai tahap finish. Serangkaian proses yang tak pernah usai tersebut menjurus pada satu tujuan, menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Lalu, bisakah seseorang menjadi pemimpin yang sesungguhnya?
Pemimpin yang sesungguhnya atau lumrah disebut sebagai pemimpin ideal dalam arti paling purba adalah seorang pemimpin yang mampu menjalankan fungsi dan perannya, yang tak lain adalah mengatur. Setidaknya dalam ranah ideologis memang demikian, namun akan memperoleh perluasan jika dibenturkan dalam ranah praktis. Dibenturkan dalam kehidupan nyata di masyarakat. Apa yang diajarkan Ki Hajar Dewantara setidaknya bisa menjawab permasalahan ini. Seorang pemimpin adalah; Ing ngarso sung tuladha (di depan sebagai contoh), ing madya mangun karso (di tengah memberi semangat), tut wuri handayani (di belakang memberikan dorongan). Pengertian ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin jauh dari sikap pemanfaatan kekuasaan untuk memerintah seenaknya.
Menjadi seorang pemimpin ideal memang sulit dan memerlukan proses belajar yang panjang, namun bukan berarti tidak mungkin. Pada dasarnya manusia adalah pemimpin, setidaknya menjadi pemimpin atas dirinya sendiri. Hal ini sejalan dengan idiom bahwa tiap manusia akan menanggung sendiri dari apa yang telah ia lakukan. Jadi di sini manusia dituntut untuk bisa mengontrol dirinya agar tetap pada koridor dan nilai-nilai tertentu.
Tantangan dan Harapan
Namun seorang pemimpin baru akan benar-benar memperoleh tantangan jika dia menjadi pemimpin dalam organisasi atau kelompok tertentu. Sebab di sini dia juga bertanggung jawab bukan hanya pada apa yang dia lakukan, tapi juga apa yang dilakukan oleh anggotanya. Lebih dari itu, juga bertanggung jawab atas tercapai atau tidaknya tujuan tertentu. Sehingga filosofi hidup yang diutarakan Ki Hajar Dewantara di atas sekaligus merupakan tantangan untuk menjadi seorang pemimpin yang ideal.
Di depan sebagai contoh, artinya selain ia menjalankan tugas pokok sebagai pemimpin, ia juga harus mampu bersikap positif, mampu memberikan positif impact, sehingga ia layak untuk menjadi "bahan" percontohan sikap dan prilaku bagi liyan (the other) yang tak lain adalah para anggotanya. Selanjutnya, di tengah memberi semangat, artinya dalam aktifitas untuk mencapai tujuan, seorang pemimpin tidak melulu mengatur, pemimpin harus mampu memberikan sentuhan-sentuhan penyemangat agar para anggota juga tidak merasa diperas, ditekan dalam aktifitasnya. Ketiga, di belakang memberi dorongan, di sinilah seorang pemimpin tidak selalu dalam posisi di depan dalam derap langkah sebuah aktifitas. Seorang pemimpin yang ideal harus mampu dan mau “turun tahta” untuk sementara waktu, untuk membaur bersama anggota dan memberikan dorongan-dorongan di saat mereka dalam keadaan lemah, fisik atau pun mental. Sikap-sikap tersebut mencerminkan sikap luwes (transformatif) pada diri pemimpin. Dia mampu memerankan berbagai adegan dalam kancah aktifitas berorganisasi.
Selain sikap sekaligus tantangan bagi pemimpin ideal di atas, pemimpin juga diharapkan mampu menjalani komunikasi dengan baik. Komunikasi adalah sebuah penengah (medium) antara pemimpin dan anggota. Hemat penulis, terjalinnya komunikasi yang baik, akan tercipta pula iklim harmonis dalam organisasi tersebut. Sehingga sangat wajar jika Marshal Mc. Luchan mengatakan, "medium is power". Komunikasi adalah kekuatan sekaligus kekuasaan. Atau dengan ekstrim Cicero mengatakan "tak ada yang satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau dapat diperbaiki dengan kata-kata", di mana kata adalah moda utama komunikasi. Namun harus diakui untuk mencapai sikap-sikap itu butuh proses panjang. Sehingga muncul pertanyaan yang cenderung politis, mengapa seseorang ingin jadi pemimpin? Pertanyaan ini akan terjawab jika tujuan sekaligus harapan menjadi pemimpin terjawab.
Secara internal, harapan sekaligus tujuan seseorang untuk memimpin, jika meminjam istilah Friedrich Nietzche adalah adanya kehendak untuk berkuasa (the will to power). Bakat alami yang dimiliki oleh manusia adalah keinginannya untuk menguasai. Kehendak untuk berkuasa di sini dapat dirumuskan sebagai kekuatan yang memerintahkan tanpa adanya suatu pasivitas. (St. Sunardi, 2009: 63). Harapan ini mengandaikan orang lain agar mengatakan "Ya" atas ide, perkataan, hingga laku kita. Di sinilah persepsi mengenai pemimpin menemui definisi banalnya, memerintah. Menjadi pemimpin itu mudah karena hanya memerintah.
Selain itu, menunjukkan eksistensi juga menjadi tujuan seseorang menjadi pemimpin. Jika mengacu pada teori Abraham Moslow, maka menjadi pemimpin adalah jalan untuk memenuhi kebutuhan akan eksistensi diri. Meneguhkan biografi diri dalam pergolakan di panggung dunia. Sebab efek yang tak disadari dari seorang pemimpin adalah menjadi populer.
Dua faktor esensial inilah yang menjadikan seseorang ingin dan berani menjadi pemimpin. Namun yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana kita memimpin dengan baik.
Kamis, September 23
Orator atau Calon Koruptor?
Siapa para pejabat yang korupsi di negeri kita saat ini? Jawabnya bisa singkat, bisa pula panjang. Singkat, ketika pikiran kita terpaku pada masa ini. Panjang, ketika jawaban itu dikaitkan dengan kenyataan pada masa lalu dan masa datang.
Lewat tulisan ini, saya hanya akan mengulas jawaban yang panjang. Jawaban paling sederhana, para koruptor yang sekarang duduk di kursi kekuasaan adalah para mahasiswa pada masa lalu. Logika sederhananya, mereka yang sekarang berkuasa adalah kita pada masa datang.
Dengan berat hati harus kita akui, mereka yang korupsi saat ini adalah diri kita sendiri. Atau, jika terlalu berat mengakui hal itu, mari sejenak mundur ke masa lalu, ke saat saat para koruptor itu menyandang status mahasiswa. Kemudian, mari bersama-sama kita katakan mereka adalah mahasiswa dan kita adalah mahasiswa. Jadi, mereka adalah kita. Contoh riil, Direktur Jenderal pajak yang akhir-akhir ini diketahui bermain gelap dengan pajak tak lain dan tak bukan adalah mantan mahasiswa.
Saya tidak menjustifikasi bahwa mahasiswa saat ini adalah koruptor.Saya ini hanya ingin mengingatkan, dalam diri mahasiswa mengalir “darah tikus”.
Dengan menyadari hal itu, mahasiswa bisa mengantisipasi terlebih dahulu agar darah itu tak mengalir lebih deras.
Saya yakin, mahasiswa di seluruh Indonesia saat ini adalah mahasiswa yang peduli terhadap negara, peduli terhadap nasib rakyat. Itu terbukti dengan aksi unjuk rasa yang kerap mereka lakukan. Nurani membuat mereka menuntut pemerintah untuk memperhatikan nasib rakyat.Memberantaskorupsi!
Namun untuk peduli terhadap nasib rakyat sepertinya harus ada cara baru. Tidak harus turun ke jalan, baris di depan gedung pemerintahan, meneriakkan nasib rakyat, dan menuntut pemberantasan korupsi. Alasannya singkat, bukankah itu juga yang dulu dilakukan para mahasiswa, yang saat ini ada dalam struktur pemerintahan?
Jika tidak percaya, mari sejenak menengok ke belakang. Setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan dua puluh tahun lalu, berapa banyak mahasiswa dengan semangat kerakyatan turun memenuhi jalan, berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan? Sama dengan yang dilakukan mahasiswa saat ini.
Kultur Justru itu semua akan menjadi berbahaya jika unjuk rasa atau demonstrasi suatu saat hanya dianggap sebagai kultur. Bahwa unjuk rasa yang semula disakralkan sebagai bentuk ungkapan penolakan kebijakan pemerintah sekaligus alat untuk menyampaikan aspirasi, suatu saat hanya dianggap sebagai budaya.
Dalam bahasa lebih sederhana, kebiasaan mahasiswa melakukan unjuk rasa hanya akan dianggap sebagai budaya mahasiswa. Apa yang dilakukan mahasiswa di jalan, berteriak-teriak, membakar ban bekas bukanlah bentuk penolakan dan penyaluran aspirasi, melainkan pelestarian kebudayaan.
Dalam ungkapan lebih sederhana lagi, mahasiswa harus berdemonstrasi. Jika tidak, berarti bukan mahasiswa.
Lewat tulisan ini, saya hanya akan mengulas jawaban yang panjang. Jawaban paling sederhana, para koruptor yang sekarang duduk di kursi kekuasaan adalah para mahasiswa pada masa lalu. Logika sederhananya, mereka yang sekarang berkuasa adalah kita pada masa datang.
Dengan berat hati harus kita akui, mereka yang korupsi saat ini adalah diri kita sendiri. Atau, jika terlalu berat mengakui hal itu, mari sejenak mundur ke masa lalu, ke saat saat para koruptor itu menyandang status mahasiswa. Kemudian, mari bersama-sama kita katakan mereka adalah mahasiswa dan kita adalah mahasiswa. Jadi, mereka adalah kita. Contoh riil, Direktur Jenderal pajak yang akhir-akhir ini diketahui bermain gelap dengan pajak tak lain dan tak bukan adalah mantan mahasiswa.
Saya tidak menjustifikasi bahwa mahasiswa saat ini adalah koruptor.Saya ini hanya ingin mengingatkan, dalam diri mahasiswa mengalir “darah tikus”.
Dengan menyadari hal itu, mahasiswa bisa mengantisipasi terlebih dahulu agar darah itu tak mengalir lebih deras.
Saya yakin, mahasiswa di seluruh Indonesia saat ini adalah mahasiswa yang peduli terhadap negara, peduli terhadap nasib rakyat. Itu terbukti dengan aksi unjuk rasa yang kerap mereka lakukan. Nurani membuat mereka menuntut pemerintah untuk memperhatikan nasib rakyat.Memberantaskorupsi!
Namun untuk peduli terhadap nasib rakyat sepertinya harus ada cara baru. Tidak harus turun ke jalan, baris di depan gedung pemerintahan, meneriakkan nasib rakyat, dan menuntut pemberantasan korupsi. Alasannya singkat, bukankah itu juga yang dulu dilakukan para mahasiswa, yang saat ini ada dalam struktur pemerintahan?
Jika tidak percaya, mari sejenak menengok ke belakang. Setahun, dua tahun, lima tahun, bahkan dua puluh tahun lalu, berapa banyak mahasiswa dengan semangat kerakyatan turun memenuhi jalan, berorasi di depan gedung-gedung pemerintahan? Sama dengan yang dilakukan mahasiswa saat ini.
Kultur Justru itu semua akan menjadi berbahaya jika unjuk rasa atau demonstrasi suatu saat hanya dianggap sebagai kultur. Bahwa unjuk rasa yang semula disakralkan sebagai bentuk ungkapan penolakan kebijakan pemerintah sekaligus alat untuk menyampaikan aspirasi, suatu saat hanya dianggap sebagai budaya.
Dalam bahasa lebih sederhana, kebiasaan mahasiswa melakukan unjuk rasa hanya akan dianggap sebagai budaya mahasiswa. Apa yang dilakukan mahasiswa di jalan, berteriak-teriak, membakar ban bekas bukanlah bentuk penolakan dan penyaluran aspirasi, melainkan pelestarian kebudayaan.
Dalam ungkapan lebih sederhana lagi, mahasiswa harus berdemonstrasi. Jika tidak, berarti bukan mahasiswa.
Langganan:
Postingan (Atom)
